STOP! Memukul Bokong Anak Meskipun Orang Tua Emosi Hadapi Anak Nakal, Dampaknya Buruk Bagi Anak

oleh

Uri.co.id – Ketika anak nakal, tidak sedikit orang tua yang kemudian memukul bokong anak.

Jika Anda adalah salah satu orang tua yang masih melakukan hal tersebut, sebaiknya segera hentikan.

Berdasarkan sejumlah studi tentang pengembangan anak, kebiasaan memukul bokong anak tersebut sudah seharusnya dihentikan, karena berbahaya.

Bahkan, Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika Serikat (AAP) telah mengeluarkan pernyataan tegas tentang hal itu.

tidak efektif untuk mengubah perilaku anak.
Putri Titian Curhat Merasa Tak Becus jadi Ibu, Bangunkan Anak Tak Pakai Perasaan, Hingga Anak Nangis

Putri Titian Curhat Merasa Tak Becus jadi Ibu, Bangunkan Anak Tak Pakai Perasaan, Hingga Anak Nangis (ist)

Hal itu disertai data dari sejumlah studi yang mengungkap, anak-anak yang sering dipukul bokongnya oleh orangtua akan cenderung lebih gemar menentang.

Mereka pun berpotensi menunjukkan perilaku agresif di usia prasekolah dan sekolah, berpotensi meningkatkan risiko penyakit kesehatan mental, hingga penurunan kepercayaan diri.

Dokter anak Karen Estrella, mengungkapkan, memukul bokong mungkin akan memunculkan rasa takut dalam diri anak ketika hal itu berlangsung.
Ilustrasi

Ilustrasi (Shutterstock)

Namun perlakuan tersebut sesungguhnya tidak akan bisa mengubah perilaku anak menjadi lebih baik untuk jangka waktu panjang.

Sering, memukul bokong seolah menormalisasi tindakan pemukulan yang akan memicu perilaku agresif, sehingga konflik antara anak dan orangtua lebih berpotensi muncul.

“Anak-anak memandang orangtua sebagai role model. Sehingga perilaku agresif hanya akan mengeneralisasi lebih banyak perilaku negatif terhadap anak,” kata Estrella.

Dalam pernyataan yang sama, AAP juga mengimbau untuk tidak dilakukan pelecehan verbal, menjelaskan kepada anak dengan berteriak dan hinaan.

Juga, jangan mempermalukan anak juga bisa memicu perkembangan otak yang negatif.

“Riset menunjukkan bahwa anak yang terpapar stres racun bisa mengalami masalah pada bagian kapasitas kognitifnya di kemudian hari,” ujar Estrella.

Pola asuh produktif-disiplin

Untuk mendidik anak yang berperilaku disiplin dan produktif, AAP merekomendasikan langkah-langkah berikut:

– Membangun hubungan positif dan suportif antara orangtua dan anak sehingga anak mendapat contoh perilaku positif.

– Menggunakan cara positif untuk mengajak anak berperilaku baik.

– Jika perlu, gunakan metode disiplin lainnya, seperti waktu luang atau memberi penghargaan untuk anak atas suatu pencapaian atau dalam periode waktu tertentu.

Estrella kemudian memberikan rekomendasi pada orangtua untuk melakukan hal-hal tambahan berikut:

– Orangtua sebagai role model. Jadikan sikap tenang sebagai prioritas. Ingatlah bahwa perilaku orangtua adalah contoh bagi anak.

– Susun aturan dan pembatasan yang bisa diterapkan secara konsisten oleh semua pihak yang turut serta merawat anak.

Di antara semua pengasuh, seharusnya tidak ada tokoh jahat maupun baik. Pastikan pula semua aturan disampaikan menggunakan bahasa yang baik dan sesuai usia.

– Terus memuji pencapaian anak dan merayakan perilaku baik mereka. Beri perhatian pada perilaku yang kamu ingin anakmu mengulangnya. Tunjukkan bahwa kamu mengamati dan bangga ketika mereka melakukan sesuatu yang baik.

– Tahu kapan harus tidak merespons. Abaikan perilaku buruk, misalnya ketika anak merengek-rengek di lantai, ketika tidak diizinkan bermain ponsel.

Ini adalah cara baik untuk mengurangi perilaku buruk anak di masa mendatang.

“Dalam kasus ini, anak akan belajar bahwa menjadi tantrum tidak akan membuat dia mendapatkan apa yang diinginkannya,” katanya.

– Belajar dari pengalaman masa lalu. Misalnya, mencari tahu apa pemicu perilaku buruk anak-anakmu.

Jika pemicu tersebut bisa diidentifikasi, akan selalu ada cara untuk menghindarinya atau setidaknya melakukan persiapan matang untuk menghadapimya.

Pastikan anak tahu apa konsekuensi jika mereka tidak mematuhi saran orangtuanya dan atau berperilaku tidak pantas pada situasi tertentu.

– Ubah sesuatu yang dilarang menjadi aktivitas yang bisa dilakukan anak.

Misalnya, jika anak senang merebut mainan anak lain, tawarkan mereka mainan atau aktivitas lain hingga mereka mau mengembalikan mainan tersebut.

Bicaralah dengan dokter anak apakah perilaku-perilaku anak kita adalah perilaku yang umum dilakukan oleh anak seusianya.

“Dan jika dibutuhkan, psikolog anak dan komunitas bisa menjadi sumber yang menyediakan kelas parenting untuk memberikan kita dukungan atau arahan yang lebih kuat,” kata Estrella.

(Nabilla Tashandra)

 Uri.co.id  “Sekalipun Marah, Jangan Pernah Pukul Bokong Anak…”

Artikel ini juga tayang di Intisari-Online ‘Jangan Pernah Pukul Bokong Anak Sekalipun Sedang Marah, Bisa Berefek Buruk!

‘ ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!